Banjir Bandang Ancam Sumatera Utara & Selatan. Banjir bandang kembali mengancam wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan sejak akhir Januari 2026, dipicu hujan lebat berkepanjangan dan luapan sungai-sungai besar. Hingga Jumat malam, 31 Januari 2026, BPBD kedua provinsi mencatat ratusan rumah terendam, ribuan warga mengungsi, dan akses jalan utama terputus di beberapa titik. Sumatera Utara paling parah terdampak di Kabupaten Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Dairi, sementara Sumatera Selatan dilanda genangan di Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Muara Enim, dan Musi Rawas. Debit Sungai Asahan, Batang Toru, dan Sungai Musi melebihi kapasitas normal, memaksa puluhan desa terisolasi. Situasi ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terbesar di Sumatera awal tahun ini. REVIEW FILM
Kondisi di Sumatera Utara: Banjir Bandang Ancam Sumatera Utara & Selatan
Di Sumatera Utara, banjir bandang paling parah terjadi di wilayah Tapanuli Utara dan Toba. Sungai Batang Toru dan Aek Saladi meluap sejak Kamis malam, merendam lebih dari 1.200 rumah dan memaksa sekitar 4.500 jiwa mengungsi ke balai desa, masjid, dan gereja. Ketinggian air mencapai 1,5–3 meter di beberapa kampung di Kecamatan Siborong-borong dan Porsea. Akses jalan lintas Sumatera di beberapa segmen terputus karena material longsor dan genangan, mengganggu distribusi logistik dari Medan ke wilayah selatan provinsi.
Di Samosir dan Dairi, longsor susulan banjir menimpa beberapa rumah di lereng Gunung Pusuk Buhit dan sekitar Danau Toba. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi puluhan warga, tapi akses ke desa-desa terpencil masih terhambat. Petani di dataran tinggi melaporkan ratusan hektare sawah terendam, mengancam hasil panen padi yang sedang menunggu musim berikutnya. BPBD Sumut mengaktifkan status siaga darurat hingga akhir pekan sambil mendistribusikan makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan.
Situasi di Sumatera Selatan: Banjir Bandang Ancam Sumatera Utara & Selatan
Sumatera Selatan mengalami genangan luas di OKU Timur, Muara Enim, dan Musi Rawas akibat luapan Sungai Musi dan anak-anak sungainya. Lebih dari 800 rumah terendam dengan ketinggian air 80–200 cm, memaksa sekitar 3.000 warga mengungsi. Di Kecamatan Belitang dan Martapura (OKU Timur), banjir bandang merusak jembatan kecil dan memutus akses ke beberapa desa. Genangan juga melumpuhkan lalu lintas di Jalan Lintas Sumatera segmen Lahat–Muara Enim.
Sawah dan perkebunan kelapa sawit di dataran rendah terendam luas, mengancam petani yang bergantung pada musim panen raya. BPBD Sumsel mengerahkan perahu karet dan pompa air portabel untuk evakuasi dan penyedotan genangan. Posko pengungsian didirikan di sekolah dan balai desa, dengan distribusi logistik berjalan sejak Kamis malam.
Kesimpulan
Banjir bandang yang mengancam Sumatera Utara dan Sumatera Selatan menunjukkan betapa rentannya wilayah ini terhadap cuaca ekstrem di musim hujan 2025/2026. Ribuan warga terdampak, akses terputus, dan lahan pertanian rusak menjadi dampak langsung yang terasa berat bagi masyarakat. Penanganan darurat dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan sudah berjalan cepat dengan evakuasi, bantuan logistik, dan posko siaga, tapi tantangan utama tetap pada solusi jangka panjang: normalisasi sungai, perbaikan tanggul, reboisasi lereng, dan pengelolaan drainase yang lebih baik. Pemerintah provinsi dan kabupaten diharapkan tidak hanya merespons saat bencana terjadi, melainkan mempercepat program pencegahan agar musim hujan berikutnya tidak lagi membawa dampak sebesar ini. Semoga air segera surut, korban dapat kembali ke rumah dengan selamat, dan masyarakat Sumatera bisa melewati akhir Januari ini tanpa tambahan korban jiwa.











Leave a Reply