Berita Terkini Urbandivers

Urbandivers merupakan situs yang menyediakan berita terkini seputar Indonesia maupun Dunia

AS Kirim Kapal Induk ke Laut China Selatan

AS Kirim Kapal Induk ke Laut China Selatan

AS Kirim Kapal Induk ke Laut China Selatan. Angkatan Laut Amerika Serikat mengumumkan penempatan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama Strike Group-nya di Laut China Selatan mulai 12 Februari 2026. Kapal induk bertenaga nuklir ini memasuki wilayah tersebut melalui Selat Malaka dan kini beroperasi di perairan internasional dekat Kepulauan Spratly. Penempatan ini dilakukan di tengah ketegangan yang meningkat setelah beberapa insiden tabrakan kapal dan pesawat antara China dan Filipina di Second Thomas Shoal. Pentagon menyatakan langkah ini bagian dari latihan rutin kebebasan navigasi (FONOP) dan komitmen AS terhadap sekutu di kawasan Indo-Pasifik, khususnya Filipina dan Jepang. China langsung merespons dengan menggelar latihan tempur di sekitar wilayah yang sama dan menyebut kehadiran kapal induk AS sebagai “provokasi serius”. BERITA TERKINI

Latar Belakang dan Tujuan Penempatan: AS Kirim Kapal Induk ke Laut China Selatan

USS Abraham Lincoln, yang membawa sekitar 90 pesawat tempur termasuk F/A-18 Super Hornet dan EA-18G Growler, didampingi kapal perusak kelas Arleigh Burke serta kapal penjelajah rudal. Kelompok tempur ini melintasi Laut Filipina sebelum memasuki Laut China Selatan. Menurut pernyataan resmi Armada Pasifik AS, penempatan ini bertujuan memperkuat postur pertahanan kolektif, menjaga kebebasan pelayaran, dan mendukung stabilitas kawasan di tengah klaim teritorial China yang luas (nine-dash line) yang ditolak oleh sebagian besar negara ASEAN dan putusan arbitrase 2016.
Filipina, yang baru-baru ini memperkuat kerja sama pertahanan dengan AS melalui Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA), menyambut positif kehadiran kapal induk tersebut. Manila menyebutnya sebagai “sinyal kuat” bahwa sekutu tidak akan membiarkan intimidasi di Second Thomas Shoal dan Scarborough Shoal. Jepang dan Australia juga menyatakan dukungan tidak langsung melalui pernyataan bersama bahwa kebebasan navigasi harus dihormati. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan China menyatakan bahwa kapal-kapal dan pesawat tempur Angkatan Laut Pembebasan Rakyat (PLAN) sudah melakukan “pengawasan dan pengusiran” terhadap kelompok tempur AS, dan mengingatkan bahwa Laut China Selatan adalah “wilayah kedaulatan historis” China.

Dampak dan Reaksi Regional: AS Kirim Kapal Induk ke Laut China Selatan

Kehadiran USS Abraham Lincoln langsung memicu reaksi beragam di kawasan. Di pasar keuangan, indeks saham di Manila dan Jakarta sempat turun 0,8–1,2 persen pada Jumat pagi karena kekhawatiran eskalasi, meski kemudian pulih setelah pernyataan menenangkan dari kedua belah pihak. Harga minyak Brent naik tipis sekitar 1,5 persen karena kekhawatiran gangguan rute pelayaran di Selat Malaka dan Laut China Selatan.
Negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam menyatakan keprihatinan atas peningkatan aktivitas militer, tapi tidak mengeluarkan kecaman langsung terhadap AS. Indonesia menegaskan kembali sikap non-alignment dan menyerukan agar semua pihak menahan diri serta kembali ke negosiasi Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan. Sementara itu, China menggelar latihan tembak rudal anti-kapal di perairan dekat Hainan dan mengirim kapal perusak serta fregat untuk “mengawal” kelompok tempur AS dari jarak aman. Diplomat senior AS di Washington menegaskan bahwa penempatan ini bersifat defensif dan tidak ditujukan untuk memprovokasi konflik, melainkan menunjukkan komitmen terhadap sekutu dan hukum internasional.

Kesimpulan

Penempatan kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut China Selatan menandai babak baru ketegangan di kawasan Indo-Pasifik yang sudah panas. Bagi AS, ini adalah cara menegaskan kehadiran dan dukungan terhadap sekutu tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran. Bagi China, kehadiran tersebut dilihat sebagai tantangan langsung terhadap klaim kedaulatan historisnya. Bagi negara-negara di sekitar, termasuk Indonesia, ini adalah pengingat bahwa Laut China Selatan bukan lagi wilayah “tenang” dan risiko eskalasi tetap nyata meski belum ada tanda konflik terbuka. Yang terpenting sekarang adalah semua pihak menahan diri agar latihan dan manuver tidak berubah menjadi insiden yang tidak diinginkan. Diplomasi tetap menjadi harapan utama—melalui ASEAN, forum regional, atau jalur bilateral—sebelum situasi semakin sulit dikendalikan. Semoga pertemuan antara Putin dan Trump beberapa hari lalu bisa membawa angin segar bagi dialog damai, meski Laut China Selatan punya dinamika sendiri yang tidak kalah rumit.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *