Banjir Bandang di Sulawesi Selatan Tewaskan 7 Orang. Banjir bandang dan longsor yang melanda sebagian wilayah Sulawesi Selatan sejak malam 30 Januari hingga dini hari 31 Januari 2026 telah menewaskan sedikitnya 7 orang. Hingga pagi ini, BNPB Sulsel mencatat 7 korban meninggal dunia, 12 orang hilang, dan lebih dari 18.000 jiwa terdampak langsung. Banjir terparah terjadi di Kabupaten Gowa, Maros, dan Pangkep, sementara longsor menimpa beberapa desa di lereng Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang. Cuaca ekstrem ini dipicu hujan lebat berkepanjangan akibat pengaruh bibit siklon tropis di Laut Timor dan Monsun Asia yang sangat kuat. REVIEW FILM
Penyebab dan Wilayah Paling Terdampak: Banjir Bandang di Sulawesi Selatan Tewaskan 7 Orang
Hujan ekstrem dengan curah mencapai 250–420 mm dalam 24 jam terakhir memicu luapan sungai besar seperti Sungai Jeneberang, Sungai Tallo, dan Sungai Walanae. Debit air Sungai Jeneberang di Gowa naik hingga 2.500 m³/detik, melebihi kapasitas normal 1.200 m³/detik. Tanah di lereng gunung yang sudah jenuh air mudah longsor, terutama di daerah dengan kemiringan curam.
Wilayah paling parah meliputi:
Kabupaten Gowa (Kecamatan Manuju, Tompobulu, dan Parangloe): 4 korban jiwa akibat longsor, lebih dari 9.000 rumah terendam.
Kabupaten Maros (Kecamatan Turatea dan Bontomarannu): 2 korban jiwa, 6.500 rumah terendam dengan ketinggian air 1–2,5 meter.
Kabupaten Pangkep (Kecamatan Labakkang dan Ma’rang): 1 korban jiwa, ratusan rumah rusak dan akses jalan utama terputus.
Selain itu, banjir rob di pesisir Makassar dan Maros menggenangi kawasan permukiman dengan ketinggian hingga 1,2 meter.
Dampak terhadap Masyarakat dan Infrastruktur: Banjir Bandang di Sulawesi Selatan Tewaskan 7 Orang
Korban jiwa berasal dari longsor dan terseret arus banjir bandang. Lebih dari 18.000 jiwa mengungsi ke posko-posko di masjid, sekolah, dan balai desa. Ratusan rumah rusak berat, terutama atap dan dinding yang roboh akibat air dan longsor. Jalan nasional lintas Sulsel terputus di 16 titik karena longsor dan genangan. Listrik padam di ribuan rumah karena tiang roboh dan gardu induk terendam. Jaringan telepon dan internet terganggu di sebagian besar wilayah terdampak. Sawah dan kebun seluas ribuan hektare terendam, mengancam hasil panen padi dan sayur.
Respons Pemerintah dan Rekomendasi
Gubernur Sulawesi Selatan menyatakan status tanggap darurat bencana di enam kabupaten/kota terdampak. BNPB mengerahkan helikopter dan perahu karet untuk evakuasi serta distribusi logistik ke desa terisolasi. TNI-Polri membentuk posko gabungan di Makassar, Gowa, dan Maros dengan ribuan personel terlibat dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, air minum, selimut, obat-obatan, dan tenda darurat sudah mulai disalurkan melalui jalur darat dan udara. BMKG memperpanjang status siaga hingga 4 Februari dengan prakiraan hujan sedang hingga lebat masih mungkin terjadi di wilayah Sulsel. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap banjir susulan dan longsor, serta hindari sungai yang masih meluap. Rekomendasi utama: pantau prakiraan cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG, siapkan tas darurat berisi makanan, air, obat, dan dokumen penting, serta hindari aktivitas di daerah rawan.
Kesimpulan
Banjir bandang dan longsor di Sulawesi Selatan telah menewaskan 7 orang, merendam ribuan rumah, dan memutus akses jalan utama. Respons pemerintah dan TNI-Polri sudah berjalan cepat, namun akses ke wilayah terisolasi serta risiko banjir susulan tetap menjadi tantangan utama. Prakiraan cuaca hingga awal Februari menunjukkan potensi hujan lebat masih tinggi. Warga Sulsel diminta terus waspada dan mengikuti arahan resmi. Semoga hujan segera reda dan masyarakat terdampak bisa pulih secepatnya. Cuaca ekstrem memang ujian berat, tapi solidaritas dan kesiapsiagaan bisa meringankan beban. Tetap aman dan saling bantu!











Leave a Reply