BMKG Waspada Angin Kencang Jakarta 23-24 Januari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini angin kencang untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada 23–24 Januari 2026. Kecepatan angin rata-rata tercatat 30–40 km/jam dengan hembusan maksimum mencapai 45–52 km/jam, terutama di Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, dan pesisir utara. Angin kencang ini dipicu oleh konvergensi angin monsun baratan yang masih kuat akibat pengaruh bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa. Hingga sore 23 Januari, BPBD DKI sudah mencatat 21 pohon tumbang dan 14 baliho roboh, menyebabkan kemacetan parah dan pemadaman listrik sementara di beberapa titik. MAKNA LAGU
Penyebab dan Pola Angin Kencang Jakarta: BMKG Waspada Angin Kencang Jakarta 23-24 Januari
Angin kencang ini merupakan dampak lanjutan dari sistem tekanan rendah di selatan Jawa yang terus menarik massa udara basah dan menciptakan gradien tekanan tajam di Jabodetabek. BMKG mencatat kecepatan angin tertinggi 52 km/jam di Tanjung Priok dan Ancol pada siang hari, sementara di Jakarta Pusat dan Selatan hembusan rata-rata 35–42 km/jam. Angin ini juga membawa hujan ringan hingga sedang di sebagian wilayah, sehingga risiko pohon tumbang dan baliho roboh semakin tinggi. Prakiraan hingga 24 Januari malam: angin kencang masih berlangsung dengan kecepatan 25–45 km/jam dan hembusan sesekali mencapai 50 km/jam di pesisir utara. Hujan sedang hingga lebat diprediksi kembali malam ini, terutama di Jakarta Selatan dan Timur, dengan potensi angin kencang disertai petir. BMKG meminta masyarakat tetap waspada hingga angin mereda pada 25 Januari pagi.
Dampak dan Kejadian Utama: BMKG Waspada Angin Kencang Jakarta 23-24 Januari
Hingga sore 23 Januari, BPBD DKI mencatat 21 pohon tumbang yang menimpa jalan, kabel listrik, dan beberapa rumah warga. Di Jakarta Utara, pohon tumbang di Jl. Pluit Raya, Jl. Lodan, dan Jl. Raya Pelabuhan menutup satu hingga dua lajur serta menyebabkan pemadaman listrik sementara di Kelapa Gading, Pluit, dan Penjaringan. Di Jakarta Pusat, baliho besar roboh di Jl. Thamrin, Jl. Sudirman, dan Jl. Gatot Subroto menimpa beberapa kendaraan ringan. Jakarta Selatan melaporkan 6 kejadian pohon tumbang di Tebet dan Pancoran, sementara Jakarta Barat mencatat 4 kejadian di Grogol dan Palmerah. Total 14 baliho dan spanduk besar jatuh, menyebabkan kemacetan parah di Jl. S. Parman, Jl. D.I. Panjaitan, dan Jl. MT Haryono. PLN melaporkan 16 gardu distribusi terganggu, sehingga sekitar 9.500 pelanggan mengalami pemadaman sementara. Petugas gabungan TNI-Polri, Satpol PP, dan Dishub bekerja membersihkan jalan dan mengevakuasi puing-puing hingga malam hari.
Respons Pemerintah dan Rekomendasi
Gubernur DKI Jakarta memimpin rapat koordinasi darurat dan memerintahkan Dishub serta Satpol PP membersihkan pohon tumbang dan baliho roboh secepat mungkin. PLN menargetkan pemulihan listrik di wilayah terdampak selesai malam ini. BMKG memperpanjang peringatan dini angin kencang hingga 25 Januari pagi dan meminta masyarakat menghindari area terbuka, pohon besar, dan baliho yang rentan roboh. Rekomendasi utama: pantau prakiraan cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG, hindari aktivitas di luar ruangan saat angin kencang, dan laporkan pohon miring atau baliho berbahaya ke 112 atau posko terdekat. Nelayan dan pengguna transportasi air diminta tunda aktivitas hingga angin mereda. Pemerintah pusat melalui BNPB siap kirim bantuan alat berat jika jumlah pohon tumbang semakin banyak.
Kesimpulan
Angin kencang 37–52 km/jam yang melanda Jakarta pada 23–24 Januari 2026 berhasil mengganggu aktivitas masyarakat dengan puluhan pohon tumbang, baliho roboh, dan pemadaman listrik sementara. Dampak terasa luas di Jakarta Utara, Pusat, dan Selatan, meski tidak ada korban jiwa. Respons cepat dari BPBD, Dishub, dan PLN membantu mengurangi kerugian, tetapi prakiraan angin kencang hingga 25 Januari menunjukkan risiko tetap tinggi. Warga Jakarta diminta tetap waspada, pantau informasi resmi, dan hindari area berisiko. Semoga angin segera mereda dan ibu kota kembali normal tanpa insiden tambahan. Cuaca ekstrem memang ujian, tapi kesiapsiagaan dan kerjasama bisa meminimalkan dampak. Tetap aman di rumah kalau tidak mendesak!











Leave a Reply