Berita Terkini Urbandivers

Urbandivers merupakan situs yang menyediakan berita terkini seputar Indonesia maupun Dunia

Overthinking: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Overthinking: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Overthinking: Penyebab dan Cara Mengatasinya. Overthinking atau berpikir berlebihan telah menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum dihadapi orang dewasa muda di era sekarang, di mana segala sesuatu terasa harus dianalisis hingga habis sebelum diambil keputusan. Kondisi ini bukan sekadar khawatir biasa, melainkan pola pikir yang berputar-putar tanpa henti, sering kali menciptakan skenario terburuk yang sebenarnya jarang terjadi. Pada 2026, dengan tekanan kerja, media sosial, serta ketidakpastian hidup yang terus berubah cepat, overthinking semakin mudah muncul dan sulit dihentikan. Banyak orang merasa lelah secara mental meski tidak melakukan aktivitas fisik berat, karena otak terus bekerja overtime memproses “bagaimana jika” dan “kenapa begini”. Mengenali penyebabnya serta menemukan cara mengatasinya menjadi langkah penting agar pikiran tidak terus menerus menguras energi dan mengganggu kualitas hidup sehari-hari. BERITA TERKINI

Penyebab Utama Overthinking yang Sering Terjadi: Overthinking: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Overthinking biasanya dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang saling memperkuat satu sama lain. Perfeksionisme menjadi salah satu pemicu terbesar, di mana seseorang takut membuat kesalahan sehingga mengulang-ulang analisis hingga menemukan “jalan sempurna” yang sebenarnya tidak ada. Ketidakpastian hidup, seperti perubahan pekerjaan, hubungan, atau kondisi ekonomi, juga memperburuk kebiasaan ini karena otak berusaha mencari kontrol melalui pemikiran berulang. Trauma masa lalu atau pengalaman kegagalan yang belum terselesaikan sering kali membuat seseorang lebih waspada secara berlebihan, sehingga setiap keputusan kecil pun dipertanyakan berulang kali. Media sosial turut memperparah dengan menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, memicu perbandingan diri yang berujung pada analisis berlebih tentang kekurangan pribadi. Kurang tidur, pola makan tidak seimbang, serta minim olahraga juga membuat otak lebih rentan terhadap rumination karena fungsi prefrontal cortex yang mengatur regulasi emosi menjadi lemah.

Dampak Overthinking terhadap Tubuh dan Kehidupan Sehari-hari: Overthinking: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Dampak overthinking tidak hanya terbatas pada pikiran, melainkan juga merembet ke tubuh dan performa harian. Secara fisik, kondisi ini sering menyebabkan ketegangan otot kronis, sakit kepala tegang, gangguan pencernaan, serta penurunan imunitas karena kadar kortisol tetap tinggi dalam waktu lama. Secara emosional, orang yang overthinking cenderung mudah cemas, mudah marah, serta merasa hampa karena energi mental terkuras untuk memikirkan hal yang tidak bisa dikendalikan. Di kehidupan sehari-hari, produktivitas justru menurun karena keputusan tertunda, hubungan interpersonal terganggu akibat over-analisis ucapan atau tindakan orang lain, serta hilangnya kesenangan dalam aktivitas yang dulu menyenangkan. Banyak orang akhirnya merasa terjebak dalam lingkaran setan: semakin banyak memikirkan masalah, semakin besar masalah itu terasa, padahal solusi sebenarnya sering kali lebih sederhana jika pikiran bisa diam sejenak.

Cara Praktis Mengatasi Overthinking Secara Efektif

Mengatasi overthinking memerlukan pendekatan yang konsisten dan realistis, bukan mencoba menghentikan pikiran secara paksa yang justru sering membuatnya lebih kuat. Salah satu cara paling efektif adalah teknik grounding: saat pikiran mulai berputar, fokuskan perhatian pada indera saat ini—seperti merasakan napas, mendengar suara sekitar, atau menyentuh benda di tangan—untuk memutus rantai rumination. Menulis pikiran yang berputar di kertas juga membantu, karena memindahkan isi kepala ke luar membuatnya lebih mudah dilihat secara objektif dan sering kali terasa kurang menakutkan. Membatasi waktu khawatir—misalnya hanya 10 menit sehari untuk memikirkan masalah—lalu setelah itu beralih ke aktivitas lain, melatih otak agar tidak mengembara tanpa kendali. Olahraga rutin, meditasi singkat, serta tidur yang cukup menjadi fondasi fisik yang memperkuat kemampuan regulasi emosi. Jika overthinking sudah mengganggu fungsi harian secara signifikan, mencari bantuan profesional seperti terapi kognitif-perilaku bisa memberikan alat yang lebih terstruktur untuk mengubah pola pikir berulang menjadi lebih adaptif.

Kesimpulan

Overthinking adalah kebiasaan pikiran yang bisa dikendalikan asal dikenali sejak dini dan ditangani dengan cara yang tepat, sehingga tidak terus menguras energi serta mengganggu kualitas hidup. Dari penyebab yang berakar pada perfeksionisme, ketidakpastian, hingga pengaruh lingkungan digital, hingga dampaknya yang merembet ke tubuh dan hubungan sosial, semua aspek ini saling terkait dan bisa diatasi melalui kesadaran diri serta praktik sederhana yang konsisten. Mengubah pola pikir tidak terjadi dalam semalam, tetapi setiap kali berhasil memutus rantai overthinking, seseorang semakin dekat dengan ketenangan batin yang lebih stabil. Di tengah dunia yang penuh distraksi dan tekanan, kemampuan untuk membiarkan pikiran diam sejenak menjadi kekuatan besar yang membuat hidup terasa lebih ringan dan bermakna. Overthinking bukan musuh yang tak terkalahkan—ia hanya pola yang bisa diubah dengan latihan dan kesabaran.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *