Warga Bogor Ngeliat Ular Sanca di Plafon. Warga Kelurahan Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, digegerkan oleh penemuan ular sanca sepanjang tiga meter yang bersemayam di plafon rumah pada 21 Agustus 2025. Kejadian ini menjadi perbincangan hangat di media sosial dan menambah daftar insiden serupa di wilayah tersebut, yang dikenal sebagai area rawan banjir dan dekat dengan Sungai Cikeas. Penemuan ini memicu kewaspadaan warga, terutama karena ular sanca dikenal sebagai hewan yang bisa mengintai di tempat tak terduga. Artikel ini akan mengulas apa itu ular sanca, kapan dan bagaimana ular ini ditemukan, serta tingkat bahayanya bagi warga. BERITA LAINNYA
Apa Itu Ular Sanca
Ular sanca, atau sering disebut python, adalah jenis ular besar yang termasuk dalam famili Pythonidae. Di Indonesia, ular sanca kembang (Python reticulatus) adalah spesies yang paling umum ditemukan, dikenal dengan panjang tubuh yang bisa mencapai lebih dari enam meter dan pola kulit yang khas berbentuk jaring. Ular ini tidak berbisa, tetapi memiliki kekuatan fisik luar biasa untuk melilit mangsanya hingga mati lemas. Sanca biasanya hidup di hutan, rawa, atau dekat sumber air, namun sering masuk ke permukiman mencari makanan seperti tikus atau ayam.
Di Bogor, keberadaan ular sanca sering dikaitkan dengan lingkungan yang lembap dan dekat sungai, seperti Sungai Cikeas, yang menjadi habitat alami mereka. Ular ini bersifat nokturnal, lebih aktif di malam hari, dan pandai bersembunyi di tempat seperti plafon, pohon, atau tumpukan kayu. Meski tidak agresif secara alami, ular sanca bisa menjadi ancaman jika merasa terpojok atau terganggu. Kemampuan mereka untuk memanjat dan menyelinap membuatnya sering muncul di lokasi tak terduga, seperti yang terjadi di Bojong Kulur.
Kapan Ular Ini Ditemukan
Ular sanca sepanjang tiga meter ini ditemukan pada Rabu malam, 21 Agustus 2025, sekitar pukul 20.30 WIB, di sebuah rumah di Perumahan Vila Mahkota Pesona, Bojong Kulur. Penemuan bermula ketika seorang warga mendengar suara aneh dari plafon rumahnya, diikuti oleh debu yang berjatuhan. Saat memeriksa dengan senter, ia melihat tubuh ular yang melingkar di sela-sela plafon. Panik, warga segera menghubungi tim damkar Kabupaten Bogor, yang tiba dalam waktu 30 menit.
Proses evakuasi memakan waktu sekitar satu jam karena ular berada di posisi sulit dijangkau, dengan sebagian tubuhnya terselip di balik struktur plafon. Tim damkar menggunakan alat khusus untuk menarik ular tanpa melukainya, dan berhasil mengamankannya ke dalam karung untuk dilepaskan kembali ke habitat yang lebih aman, jauh dari permukiman. Kejadian ini bukan yang pertama di daerah tersebut; pada 2019, banjir Sungai Cikeas menyebabkan 14 ular sanca lepas dari tempat pemeliharaan, dengan beberapa ditemukan di lokasi yang sama. Musim hujan yang mulai intensif pada 2025 diduga mendorong ular mencari tempat kering seperti plafon rumah.
Apakah Ular Sanca Ini Sangat Berbahaya
Ular sanca tidak berbisa, sehingga tidak membahayakan melalui gigitan beracun seperti kobra atau viper. Namun, mereka tetap berpotensi berbahaya karena kekuatan lilitannya yang mampu mematahkan tulang atau menyebabkan mati lemas. Ular sepanjang tiga meter, seperti yang ditemukan di Bojong Kulur, memiliki tenaga cukup untuk mengancam hewan peliharaan atau, dalam kasus ekstrem, manusia, terutama anak-anak. Meski demikian, ular sanca jarang menyerang manusia kecuali merasa terancam atau kelaparan.
Dalam kasus ini, ular yang ditemukan tidak menunjukkan tanda-tanda agresivitas, dan tidak ada laporan cedera selama evakuasi. Bahaya utama dari kejadian ini lebih kepada kepanikan warga dan potensi kerusakan plafon akibat pergerakan ular. Namun, keberadaan ular di permukiman menimbulkan kekhawatiran, terutama karena anak-anak dan hewan peliharaan rentan menjadi sasaran. Faktor lingkungan, seperti kedekatan dengan Sungai Cikeas dan musim hujan, meningkatkan kemungkinan ular masuk ke rumah-rumah, menuntut kewaspadaan ekstra dari warga.
Kesimpulan: Warga Bogor Ngeliat Ular Sanca di Plafon
Penemuan ular sanca sepanjang tiga meter di plafon rumah warga Bojong Kulur, Bogor, pada 21 Agustus 2025, menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan di daerah rawan satwa liar. Ular sanca, meski tidak berbisa, memiliki kekuatan fisik yang bisa berbahaya, terutama di lingkungan permukiman. Kejadian ini, yang terjadi di tengah musim hujan, menegaskan perlunya langkah preventif seperti memeriksa plafon, menutup celah-celah rumah, dan menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi daya tarik bagi ular. Respons cepat tim damkar menunjukkan pentingnya koordinasi dengan pihak berwenang dalam menangani situasi serupa. Dengan meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar di Bogor, edukasi dan kesiapan warga menjadi kunci untuk mencegah insiden serupa di masa depan, memastikan keamanan tanpa harus membahayakan keberadaan satwa seperti ular sanca.
Leave a Reply